Rembulanku….


Dahaganya waktu ketika menunggumu
Dari belaian lembut sang malam
Menanti …

Pendar cahaya yang tiba-tiba redup
Kelebat yang memisahkan rindu
Jiwa sepi pun terdiam …

Ku nanti hari esok dan pagi berganti
Ku tunggu malam dalam pekat pengharapan
Ku lihat pesan kebencian yang datang …

Biarlah…
Kupeluk dengan setia
Cinta yang meranggas rasa percaya

Mungkin memang waktunya tlah tiba…
Daku pergi selamanya…
Tanpa bisa memalingkan senyuman …

Yang pergi….


Betapa panjangnya waktu
hingga seribu puisi tertulis sejarah
Betapa singkatnya waktu
Saat kau ada merangkai cerita

Dari detak nafas masa yang tersisa
Entah sia-sia yang kupeluk dengan setia
Atau ada sisa-sisa pembuktian yang tak bermakna
Aku hanya merangkainya, tanpa harap apa-apa

Pandanganku kosong menerawang lautan tempatmu memandang
Pada garis pantai yang memisahkan angan dan harapan
Pada debur ombak yang memekikkan rindu
Pada karang yang tetap membisu

Aku merunduk kekasih hatiku
memandang jejak langkahku yang terbuang
Yang tak pernah bertumpu pada hamparan pasir putih
tempat keindahan yang tergerus sia-sia oleh kenangan yang terus meninggalkan…

Diamlah…


Yang termangu disudut waktu…
Berurai sepi teriring tetesan sang hujan
Menengadah harapan yang lenyap di kejauhan

Bersembunyilah matahariku…
Mungkin gelombang dapat menutup raut wajahmu dari mimpiku
Diamlah disana, tak perlu melambaikan kenangan

Engkau tetaplah bunga dalam lelapku…
Sekalipun hilang beriring hujan
Diamlah, biar kubaca pesanmu…
pandangan

Sang embun

Label


Semburat malam belumlah pergi
Mentari masih bersembunyi di bentang cakrawala
Ketika jemari lembut menyentuh relung jiwa

Membelai, membangunkan dengan sejuk
Meneteskan kasih sayang hari demi hari
Memberi tanpa pamrih

Saat matahari menyengat bumi
Engkau masih berdiri, memandang diantara kisi-kisi
Memeluk dengan tatap penuh kasih

Engkaulah sang embun…
Kasih yang abadi dalam lelah dan airmata
Ibu …. Jiwa yang slalu meneteskan kasih tanpa jarak dan masa…

Kekasihku….


Kekasihku yang memeluk sunyi
Meratap diantara rintihan hujan dan sengatan matahari
Tetaplah melangkah dan bernyanyi,
walau sembilu terus menyayat hati dalam siang dan malam….

Kekasihku,
bidadari yang terus tumbuh bersama matahari dan rembulan
dalam senyum yang kau sembunyikan
dalam perih yang tak kau nampakkan
dalam kecewa yang kau abaikan

Kekasihku,
tetaplah kokoh seperti karang
tetaplah lembut seperti tiupan angin yang menyejukkan
aku tetap menatapmu dari kejauhan….

Kekasih Mimpiku…

Label


Kekasih mimpiku..
Yang berdiri diantara pagi dan senja
Yang tersenyum diantara bentara sepiku yang tak kau kira
Yang kudendangkan sayup-sayup nyanyian yang tak pernah kau dengar
Yang kupuja diantara wewangian bunga-bunga yang indah
 
Tetapi
Engkau tetaplah mimpiku
Yang tiada pernah menyertai perjalananku
Dalam gelap dan sepi, diantara kidung sunyi
Langkahmu tetap menjauh, karena engkau tak pernah tahu
Tentang impianku padamu…
 
Senja masih terseyum belum menutup malam
Ketika aku tetap merindukanmu ….

Nyanyian senyap …

Label


Nyanyian sang malam yang membuai…
Diantara geliat bintang dan rembulan
Yang terpapar disemesta mimpi
Yang terkadang datang dan pergi

Senyuman indah itu mendahagakan
Peluh dalam ragam keinginan
Sekelumit isyarat yang tak dimengerti
Tentangmu bidadari yang kupandang di kejauhan…

Apakah aku?
Sebentuk pungguk yang merindukan
Yang tak dijawab oleh keraguan
Ataukah
Seonggok kasih yang terbuang, dari keanggunanmu
Yang kukagumi slalu…
(kicau sang awan dalam kesendirian)*

Kekasih malamku…

Label


Wahai kekasih malamku..
Yang menulis cerita diantara senda guraumu
Yang kau lukiskan merah hitam tentang kehidupanmu..

Engkau adalah bidadari yang kunanti
Karena tiap frasemu menyentuh relung keniscayaan
Dan kau rangkai kalimat indah yang menggetarkan

Lalu ku tanya cinta, padaku yang tak kumengerti
Semakin tak kumengerti ketika kau sembunyikan dalam senyum manismu
Sebaiknya kukatakan apa, tentang cinta yang kau hujat lewat senyum yang menggetarkan …
semakin tak ku mengerti

Kekasih malamku, bidadariku yang memeluk misteri…!
*(Catatan pada sang malam di kaki bumi andalas)

Aku merindukanmu rembulan…


Maafkan rembulan…!!
Rindu terkadang datangnya tiba-tiba seperti gelegar halilintar..
Datangnya pasti seperti pergantian musim…
Rindu ini terlalu dalam seperti samudera, terlalu luas seperti semesta raya…
Dan tiada dapat pergi dan menghilang, karena melekat didasar hati dan begitu kokoh laksana batu karang…!!
Aku merindukanmu rembulan..!!

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.120 pengikut lainnya